Keuangan | Jumat, 06 Februari 2026

10 Kesalahan Keuangan yang Sering Dilakukan Anak Muda

7 Min Read 2 Views
thumb

Banyak anak muda hari ini merasa hidupnya baik-baik saja secara finansial. Gaji masuk setiap bulan, tagihan terbayar, masih bisa nongkrong, jajan kopi, nonton konser, bahkan sesekali liburan. Dari luar, semuanya terlihat normal. Namun di balik itu, tidak sedikit yang sebenarnya sedang berjalan menuju masalah keuangan jangka panjang tanpa mereka sadari.

Masalah keuangan jarang datang tiba-tiba. Hampir tidak pernah seseorang bangkrut atau terjebak krisis finansial hanya karena satu keputusan besar. Yang sering terjadi justru sebaliknya, masalah muncul dari kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus, keputusan sepele yang dianggap wajar, dan kesalahan yang terlihat “aman” karena dilakukan oleh hampir semua orang di sekitar kita.

Anak muda sering kali bukan tidak mau mengatur uang, tapi tidak pernah benar-benar diajari. Di sekolah, kita diajarkan matematika, fisika, bahkan trigonometri, tapi tidak diajarkan cara mengelola gaji pertama, memahami utang konsumtif, atau membedakan gaya hidup sehat dan gaya hidup yang terlihat keren tapi rapuh. Akibatnya, banyak keputusan keuangan diambil berdasarkan asumsi, ikut-ikutan, atau sekadar perasaan “kayaknya aman”.

Artikel ini membahas 10 kesalahan keuangan yang paling sering dilakukan anak muda. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk membuka mata. Karena semakin cepat kita menyadari kesalahan ini, semakin besar peluang kita untuk memperbaiki arah sebelum terlambat.


1. Merasa Terlalu Muda untuk Memikirkan Keuangan

Salah satu kesalahan paling mendasar yang sering dilakukan anak muda adalah merasa bahwa urusan keuangan adalah masalah “nanti”. Banyak yang berpikir bahwa usia dua puluhan adalah waktu untuk menikmati hidup, mencoba banyak hal, dan tidak perlu terlalu serius memikirkan uang. Menabung dianggap bisa dimulai nanti, investasi dianggap urusan orang yang sudah mapan, dan perencanaan keuangan terasa terlalu kaku untuk usia muda.

Masalahnya, waktu adalah aset paling berharga dalam keuangan. Setiap tahun yang terlewat tanpa perencanaan bukan hanya kehilangan uang, tapi kehilangan kesempatan. Uang yang dikelola sejak muda memiliki keunggulan waktu yang tidak bisa digantikan oleh gaji besar di usia lebih tua. Menunda bukan berarti aman, justru sering kali berarti kehilangan.

Banyak anak muda baru tersadar pentingnya keuangan saat sudah terjebak cicilan, gaji habis sebelum akhir bulan, atau menghadapi kebutuhan mendadak tanpa dana cadangan. Di titik itu, memperbaiki kondisi jauh lebih sulit dibandingkan jika kesadaran muncul sejak awal.


2. Gaji Habis Tanpa Pernah Tahu ke Mana Perginya

“Kayaknya gue nggak boros, tapi kok gaji habis terus ya?” Kalimat ini sangat umum diucapkan anak muda. Mereka tidak merasa melakukan pengeluaran besar, tidak beli barang mahal, tidak punya cicilan aneh-aneh. Namun setiap akhir bulan, saldo tetap nol.

Masalahnya bukan pada satu pengeluaran besar, tapi pada banyak pengeluaran kecil yang tidak disadari. Jajan kopi, pesan makanan online, ongkos transport yang bocor, langganan digital yang jarang dipakai, dan impulsif belanja hal kecil yang tidak terasa signifikan. Jika dikumpulkan, semuanya bisa memakan porsi besar dari penghasilan bulanan.

Tidak mencatat pengeluaran membuat kita kehilangan kontrol. Uang keluar begitu saja tanpa jejak, dan otak kita selalu merasa “masih aman”. Kesalahan ini sering dianggap sepele, padahal hal ini menjadi fondasi dari banyak masalah keuangan lainnya.


3. Menyamakan Kebutuhan dengan Keinginan

Di era sekarang, batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur. Internet, media sosial, dan iklan membuat hampir semua hal terasa penting. Upgrade gadget dianggap perlu, nongkrong dianggap kebutuhan sosial, liburan dianggap self-reward wajib, dan barang-barang lifestyle dipersepsikan sebagai bagian dari identitas diri.

Masalah muncul ketika semua keinginan diberi label kebutuhan. Akibatnya, pengeluaran sulit dikontrol karena selalu ada pembenaran. “Butuh kok,” menjadi alasan untuk hampir semua transaksi. Padahal, kebutuhan sejati biasanya terbatas dan jelas, sementara keinginan tidak pernah ada habisnya.

Anak muda yang tidak belajar membedakan kebutuhan dan keinginan akan terus berada dalam siklus gaji habis, tanpa merasa bersalah, karena semuanya terasa masuk akal. Kesalahan ini bukan soal pelit atau tidak, tapi soal kesadaran dan prioritas.


4. Terjebak Gaya Hidup yang Tidak Sejalan dengan Penghasilan

Gaya hidup sering kali naik lebih cepat daripada penghasilan. Saat gaji naik sedikit, standar hidup langsung melonjak. Saat pindah lingkungan kerja atau pertemanan, pola konsumsi ikut berubah. Nongkrong di tempat yang lebih mahal, ikut tren liburan, dan merasa tidak enak jika tidak ikut arus.

Masalahnya, gaya hidup yang dibangun di atas tekanan sosial sangat rapuh. Selama penghasilan lancar, semuanya terasa aman. Tapi saat ada gangguan kecil, seperti bonus tidak turun atau pengeluaran tak terduga, kondisi keuangan langsung goyah.

Banyak anak muda tidak sadar bahwa mereka sedang membangun kehidupan yang mahal untuk dipertahankan. Bukan karena kebutuhan, tapi karena ingin terlihat setara dengan lingkungan sekitar. Ini adalah kesalahan yang sering baru disadari saat sudah terlalu jauh.


5. Menganggap Utang Konsumtif sebagai Solusi

Cicilan sering terasa seperti penyelamat. Dengan cicilan, barang mahal terasa lebih terjangkau. Smartphone, motor, gadget, bahkan liburan bisa dinikmati tanpa harus menunggu uang terkumpul. Sayangnya, kemudahan ini sering menipu.

Utang konsumtif tidak menambah nilai jangka panjang. Ia hanya memindahkan kesenangan hari ini ke beban di masa depan. Setiap cicilan mengurangi fleksibilitas keuangan bulan berikutnya, dan jika terlalu banyak, ruang gerak menjadi sangat sempit.

Anak muda sering merasa cicilan kecil itu aman. Tapi saat cicilan menumpuk, sedikit gangguan saja bisa membuat keuangan berantakan. Kesalahan ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman tentang dampak jangka panjang utang.


6. Tidak Punya Dana Darurat

Dana darurat sering dianggap tidak penting karena “selama ini aman-aman saja”. Anak muda merasa tubuh masih kuat, pekerjaan masih stabil, dan bantuan keluarga masih ada. Akibatnya, dana darurat selalu ditunda.

Padahal, justru di usia produktif risiko sering muncul tanpa diduga. Kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan, kerusakan barang penting, atau kebutuhan mendadak lainnya bisa datang kapan saja. Tanpa dana darurat, solusi yang diambil sering kali adalah utang atau mengorbankan kebutuhan lain.

Dana darurat bukan soal pesimis, tapi soal kesiapan. Tidak memilikinya adalah kesalahan yang dampaknya baru terasa saat situasi genting.


7. Menabung Tanpa Tujuan yang Jelas

Banyak anak muda merasa sudah “cukup baik” karena menabung. Namun tabungan tersebut sering tidak punya tujuan jelas. Uang ditaruh di rekening, dibiarkan, dan sesekali diambil untuk kebutuhan impulsif.

Menabung tanpa tujuan membuat tabungan sulit bertahan. Tanpa alasan yang kuat, uang tabungan terasa seperti dana cadangan bebas pakai. Akhirnya, tabungan tidak pernah tumbuh, hanya berpindah-pindah tempat.

Menabung seharusnya memiliki makna. Entah untuk dana darurat, pendidikan, modal usaha, atau tujuan hidup tertentu. Tanpa tujuan, menabung kehilangan arah.


8. Takut atau Malas Belajar Tentang Investasi

Banyak anak muda menganggap investasi itu rumit, berisiko, atau hanya untuk orang kaya. Ada juga yang merasa belum cukup pintar, belum cukup uang, atau belum waktunya. Akibatnya, mereka menunda belajar terlalu lama.

Ironisnya, anak muda justru memiliki keunggulan terbesar dalam investasi, yaitu waktu. Kesalahan ini bukan soal tidak langsung berinvestasi besar-besaran, tapi soal tidak mau belajar sejak dini.

Menunda belajar membuat banyak peluang terlewat. Saat akhirnya tertarik, sering kali karena FOMO atau tren, bukan karena pemahaman. Ini justru meningkatkan risiko kesalahan berikutnya.


9. Mengandalkan Satu Sumber Penghasilan Tanpa Rencana

Banyak anak muda merasa aman selama punya gaji tetap. Selama perusahaan stabil dan pekerjaan berjalan, semuanya terasa cukup. Namun mengandalkan satu sumber penghasilan tanpa rencana cadangan adalah posisi yang rentan.

Dunia kerja berubah cepat. Perusahaan bisa restrukturisasi, industri bisa terganggu, dan kondisi ekonomi bisa memburuk. Tanpa persiapan, kehilangan penghasilan utama bisa berdampak besar.

Kesalahan ini bukan berarti semua orang harus punya side hustle sejak awal, tapi setidaknya punya kesadaran bahwa satu sumber penghasilan bukan jaminan keamanan selamanya.


10. Menghindari Bicara dan Belajar Soal Uang

Bagi banyak orang, uang adalah topik sensitif. Anak muda sering merasa malu jika keuangannya belum rapi, atau takut dianggap materialistis jika membicarakan uang. Akibatnya, pembelajaran keuangan sering dihindari.

Padahal, semakin lama topik ini dihindari, semakin besar risiko membuat keputusan yang salah. Tidak bertanya, tidak belajar, dan tidak berdiskusi membuat kesalahan yang sama terus terulang. Uang bukan soal gengsi, tapi alat. Menghindari pembicaraan tentang uang adalah kesalahan yang terasa biasa saja namun fatal.


Kesalahan keuangan yang dilakukan anak muda jarang disebabkan oleh kebodohan atau kemalasan. Sebagian besar muncul karena kurangnya edukasi, tekanan sosial, dan asumsi yang salah tentang uang. Banyak dari kesalahan ini terlihat wajar karena dilakukan oleh banyak orang, padahal dampaknya bisa sangat panjang.

Kabar baiknya, hampir semua kesalahan ini bisa diperbaiki. Semakin cepat disadari, semakin besar peluang untuk membangun fondasi keuangan yang lebih sehat. Usia muda bukan alasan untuk menunda, tapi justru waktu terbaik untuk mulai.

Mengelola keuangan bukan berarti mengorbankan kebahagiaan. Justru sebaliknya, ia memberi kebebasan, ketenangan, dan ruang untuk hidup dengan lebih sadar. Dan semua itu dimulai dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri tentang kesalahan yang mungkin sedang kita lakukan hari ini.

Tags: literasi finansial perencanaan keuangan pengelolaan uang keuangan anak muda kesalahan keuangan manajemen keuangan pribadi finansial generasi muda edukasi keuangan kebiasaan finansial buruk kesalahan finansial umum

Artikel Terbaru

Video Terbaru