Tokoh | Senin, 24 November 2025

Belajar Kaya dan Merdeka dari Naval Ravikant

12 Min Read 10 Views
thumb

Naval Ravikant adalah salah satu tokoh paling unik di dunia teknologi dan investasi, dirinya adalah pengusaha, angel investor, dan filsuf yang banyak bicara tentang kekayaan, kebebasan, dan kebahagiaan. Namanya dikenal luas sebagai pendiri dan chairman AngelList, platform yang menghubungkan startup dengan investor dan talent di seluruh dunia. Selain itu, ia juga menjadi investor awal di ratusan startup teknologi seperti Uber, Twitter, Postmates, Yammer, dan banyak lagi.

Di luar prestasi bisnis, Naval terkenal karena cara berpikirnya yang jernih, sederhana, namun sangat dalam. Ide-idenya dikumpulkan oleh Eric Jorgenson dalam buku “The Almanack of Naval Ravikant: A Guide to Wealth and Happiness”, yang berisi kumpulan tweet, podcast, dan wawancara Naval tentang bagaimana membangun kekayaan dan menjalani hidup yang lebih bahagia.

Berikut adalah pembahasan mendalam tentang Naval Ravikant, mulai dari latar belakang hidupnya, perjalanan karier, perannya di AngelList dan dunia kripto, hingga filosofi kekayaan dan kebahagiaan yang membuatnya begitu berpengaruh.


Latar Belakang dan Masa Kecil

Naval Ravikant lahir pada 5 November 1974 di New Delhi, India. Ia kemudian pindah ke Amerika Serikat bersama ibunya dan kakaknya ketika berusia sekitar 9 tahun, dan menetap di Queens, New York. Perpindahan ini bukan perjalanan yang mulus, keluarga mereka hidup dengan kondisi ekonomi yang sulit, bahasa berbeda, dan lingkungan baru yang menantang.

Dalam berbagai wawancara, Naval sering bercerita bahwa ia tumbuh sebagai anak yang kesepian, tidak terlalu populer, dan banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Buku menjadi “pelarian” sekaligus “guru” utamanya. Ia membaca apa saja mulai dari fiksi ilmiah, sejarah, psikologi, teknologi, hingga buku-buku filsafat. Kebiasaan membaca yang intens ini membentuk cara berpikirnya yang luas, lintas disiplin, dan sangat mandiri.

Di usia remaja, ia diterima di Stuyvesant High School, salah satu SMA publik paling bergengsi di New York yang menekankan sains dan matematika. Setelah lulus, Naval melanjutkan studi di Dartmouth College, mengambil jurusan ilmu komputer dan ekonomi. Kombinasi dua bidang teknologi dan ekonomi yang nantinya menjadi fondasi penting bagi karier dan cara berpikirnya sebagai pengusaha dan investor.


Awal Karier dari Epinions dan Jalan Berliku di Silicon Valley

Perjalanan Naval di dunia startup dimulai pada akhir 1990-an, masa awal “dot-com boom”. Pada tahun 1999, ia ikut mendirikan Epinions, sebuah situs ulasan produk dan pendapat pengguna, bersama beberapa co-founder lain. Mereka berhasil mendapatkan pendanaan cukup besar dari venture capital ternama di Silicon Valley.

Epinions sebenarnya cukup visioner untuk masanya, dengan konsep berbagi review dan opini pengguna ini mirip dengan apa yang kemudian berkembang di Yelp dan Quora. Namun, perjalanan perusahaan tersebut tidak mulus. Ada konflik internal dan masalah pada struktur kepemilikan saham yang kemudian memicu sengketa hukum. Pengalaman pahit ini mengajarkan Naval banyak hal tentang dunia venture capital, negosiasi term sheet, dan bagaimana para pendiri startup bisa terjebak dalam struktur yang tidak adil.

Pengalaman inilah yang kemudian mendorong Naval untuk lebih vokal membagikan pengetahuan tentang fundraising startup kepada para founder lain. Dari sini, lahirlah blog Venture Hacks, yang berisi tips dan panduan sangat jujur tentang cara bernegosiasi dengan investor. Venture Hacks menjadi populer di kalangan founder, dan menjadi cikal bakal dari sesuatu yang jauh lebih besar yaitu AngelList.


AngelList Menciptakan “Pasar” untuk Startup dan Investor

Pada tahun 2010, Naval Ravikant bersama rekannya Babak Nivi mendirikan AngelList, platform yang menghubungkan startup, investor malaikat, dan talenta. AngelList awalnya lahir dari ide sederhana yaitu membuat daftar (list) investor yang bisa dihubungi startup, lalu berkembang menjadi marketplace yang transparan di mana founder bisa mencari pendanaan dan investor bisa menemukan peluang investasi. Seiring waktu, AngelList berkembang menjadi ekosistem lengkap:

  • Platform fundraising: startup bisa menggalang dana, investor bisa ikut serta dalam sindikasi (syndicates).
  • Talent & jobs: orang-orang yang ingin bekerja di startup bisa mencari lowongan di perusahaan teknologi.
  • Product discovery: melalui akuisisi Product Hunt pada tahun 2016, AngelList juga menjadi tempat untuk menemukan dan meluncurkan produk-produk baru.

AngelList juga mencapai tonggak penting secara bisnis. Pada 2022, AngelList Venture mendapatkan pendanaan yang menilai perusahaan ini dengan valuasi sekitar 4 miliar dolar AS, memperlihatkan betapa besar pengaruh dan skala platform ini dalam dunia venture capital modern.

Dari sisi filosofi, AngelList mencerminkan pandangan Naval tentang demokratisasi investasi bahwa peluang investasi di startup seharusnya tidak hanya terbatas pada segelintir orang dalam jaringan tertutup, tetapi bisa diakses oleh lebih banyak investor terakreditasi, dengan proses yang lebih transparan dan efisien.


MetaStable Capital dan Peran Naval di Dunia Kripto

Selain AngelList, Naval juga dikenal sebagai sosok yang cukup awal melihat potensi cryptocurrency dan teknologi blockchain. Pada tahun 2014, ia ikut mendirikan MetaStable Capital, sebuah crypto hedge fund yang berfokus pada investasi aset kripto jangka panjang.

Pada 2017, sebuah dokumen regulator menunjukkan bahwa MetaStable telah mengelola puluhan juta dolar aset, dengan investor institusi besar seperti Andreessen Horowitz dan Sequoia Capital. Hal ini mengukuhkan Naval sebagai salah satu pemikir dan pelaku penting dalam gelombang awal investasi kripto.

Naval bukan hanya melihat kripto sebagai peluang spekulasi, tapi lebih sebagai fondasi sistem keuangan baru yang lebih terbuka dan permissionless. Dalam berbagai tulisan dan wawancara, ia menjelaskan bahwa blockchain dan kripto bisa menjadi infrastruktur ekonomi yang tidak bergantung pada perantara tradisional, dan membuka peluang besar bagi inovasi di seluruh dunia.


The Almanack of Naval Ravikant: Panduan Kekayaan dan Kebahagiaan

Popularitas Naval melonjak jauh melampaui dunia venture capital setelah ide-idenya dirangkum dalam buku “The Almanack of Naval Ravikant: A Guide to Wealth and Happiness” oleh Eric Jorgenson. Buku ini bukan autobiografi, melainkan kumpulan wawasan Naval dari tweet, podcast, dan wawancara selama lebih dari 10 tahun.

Secara garis besar, buku ini terbagi dalam dua tema utama:

  • Wealth (kekayaan)
  • Happiness (kebahagiaan)

Yang menarik, Naval selalu menekankan bahwa kekayaan dan kebahagiaan adalah dua hal berbeda. Kekayaan penting, tapi bukan segalanya. Kekayaan adalah alat untuk kebebasan, bukan tujuan akhir itu sendiri.

Mari kita bahas beberapa prinsip penting Naval.


Cara Naval Memandang Kekayaan

1. Bedakan Antara Uang dan Kekayaan

Bagi Naval, uang (money) dan kekayaan (wealth) adalah hal yang berbeda. Uang hanyalah alat pertukaran dan penyimpan nilai. Kekayaan adalah aset produktif seperti bisnis, produk, perangkat lunak, konten, atau sistem yang bisa menghasilkan uang meski kita tidak terus-menerus menjual waktu.

Contoh sederhana:

  • Seorang pegawai kantoran bergaji besar tapi tidak punya aset produktif → punya uang, belum tentu punya kekayaan.
  • Seorang founder yang punya saham di produk SaaS yang terus menghasilkan recurring revenue → punya kekayaan, walau gajinya mungkin kecil di awal.

Tujuan Naval adalah membantu orang bergerak dari “menjual waktu” menuju “memiliki aset yang bekerja untuk kita”.

2. Membangun “Specific Knowledge”

Naval sering menggunakan istilah “specific knowledge” atau pengetahuan unik yang sulit diganti dan sulit diajarkan dengan cara formal. Ini biasanya muncul dari gabungan bakat, rasa ingin tahu, dan pengalaman panjang.

Specific knowledge biasanya punya ciri:

  • Kamu menikmatinya dengan terasa seperti bermain, bukan bekerja.
  • Orang lain menganggapnya sulit atau aneh, tapi kamu justru penasaran.
  • Sulit digantikan oleh orang lain, dan sulit diotomasi.

Contoh:

  • Kemampuan membangun sistem backend skala besar plus memahami bisnis produk → jarang dan bernilai tinggi.
  • Kemampuan mengkombinasikan desain, psikologi pengguna, dan penulisan copy → sangat berguna di startup.

Naval menyarankan kita mengikuti rasa ingin tahu yang mendalam dan memperdalam skill yang terasa “natural” bagi diri kita, karena di situlah biasanya specific knowledge terbentuk.

3. Leverage: Kerja Keras yang Diperkuat

Kata kunci lain dari Naval adalah “leverage” atau daya ungkit. Menurutnya, bekerja keras saja tidak cukup karena kita perlu leverage supaya hasil kerja bisa dikalikan berkali-kali.

Ia menyebut tiga tipe leverage utama:

  • Leverage tenaga manusia (labor): Misalnya punya tim, karyawan, atau orang yang bekerja bersama kita. Ini leverage tertua, tapi juga yang paling sulit di-manage.
  • Leverage modal (capital): Menggunakan uang (investasi, modal usaha) untuk membesarkan hasil kerja. Butuh kepercayaan orang lain untuk mengelola modal mereka.
  • Leverage tanpa izin (permissionless leverage): Ini yang ia anggap paling menarik di era digital: software, konten, kode, dan media online

Sekali kita membuat software, video, artikel, atau kursus, itu bisa dinikmati jutaan orang tanpa biaya tambahan besar. Internet memungkinkan siapa pun memanfaatkan leverage jenis ini tanpa perlu “izin” bos, bank, atau investor. Di sinilah Naval sering menekankan “Code dan media adalah bentuk leverage tanpa izin.” Belajar menulis (sebagai kemampuan berpikir) dan belajar teknologi (sebagai kemampuan membuat produktifitas) adalah dua skill paling penting.

4. “Find a way to get paid for being you”

Salah satu ide favorit Naval adalah mencari cara agar kita bisa dibayar karena menjadi diri sendiri. Maksudnya, menemukan kombinasi unik dari minat, bakat, dan specific knowledge, lalu mengemasnya dalam bentuk produk atau jasa yang bernilai di pasar.

Ia percaya bahwa persaingan paling sengit terjadi ketika semua orang melakukan hal yang sama. Cara keluar dari “kompetisi brutal” adalah dengan menemukan niche unik, sesuatu yang bagi kita terasa seperti permainan, tapi bagi orang lain terasa seperti pekerjaan berat.


7. Filosofi Naval tentang Kebahagiaan

Naval tidak hanya bicara soal uang. Bahkan, ia sering mengingatkan bahwa mengejar uang tanpa memahami kebahagiaan akan berakhir pada kekecewaan.

1. Kebahagiaan sebagai “Skill”

Menurut Naval, kebahagiaan adalah kemampuan yang bisa dilatih bukan sesuatu yang sepenuhnya bergantung pada situasi luar. Ia menekankan bahwa pikiran kitalah yang menciptakan ketidakpuasan melalui keinginan yang tak ada habisnya, perbandingan dengan orang lain, dan penilaian negatif tentang apa yang kita alami.

Beberapa prinsip yang sering ia tekankan:

  • Mengurangi keinginan → sama pentingnya dengan menambah pencapaian.
  • Menerima kenyataan apa adanya → dunia netral, pikiran kitalah yang memberi label “baik” atau “buruk”.
  • Belajar duduk diam tanpa melakukan apa-apa → jika kita bisa betah dengan diri sendiri, hidup akan terasa jauh lebih ringan.

Ia pernah menulis bahwa “untuk mengukur kualitas hidupmu, coba lakukan tidak apa-apa (do nothing), dan rasakan bagaimana perasaanmu.” Intinya, jika kita hanya bisa merasa “baik” ketika sibuk atau ter-distract, ada sesuatu yang belum beres di dalam.

2. Hubungan antara Kekayaan dan Kebebasan

Bagi Naval, kekayaan yang sehat seharusnya berujung pada kebebasan. Kebebasan memilih apa yang ingin kita kerjakan, dengan siapa kita menghabiskan waktu, dan bagaimana kita menjalani hari.

Karena itu, ia tidak mengidolakan gaya hidup konsumtif. Ia lebih menekankan pentingnya:

  • Hidup sederhana,
  • Tidak terjebak utang dan kewajiban finansial yang membuat kita terpaksa menjual waktu terus-menerus,
  • Membangun sistem yang membuat kita punya waktu luang untuk berpikir, belajar, dan menikmati hidup.


Peran Media: Tweet, Podcast, dan Pengaruh Intelektual

Naval relatif jarang menulis buku panjang sendiri. Ia lebih banyak menyebarkan ide lewat:

  • Twitter (X), akun @naval yang berisi kutipan-kutipan pendek, padat, dan tajam.
  • Podcast Naval di situs nav.al, di sini ia membahas topik seperti startups, investasi, kemandirian, kebahagiaan, dan budaya kerja.
  • Wawancara podcast besar seperti The Joe Rogan Experience dan The Knowledge Project, yang memperluas jangkauan ide-idenya ke audiens global.

Format tweet dan podcast ini sesuai dengan gaya Naval karena dia suka memadatkan pemikiran rumit menjadi kalimat sederhana yang mudah diingat, seperti:

  • “A rational person can find peace by cultivating indifference to things outside of their control.”
  • “People think they can’t change themselves, but they can. People think they can change others, but they can’t.”

Banyak orang menganggap Naval sebagai “filsuf Twitter” era teknologi, seseorang yang bisa merangkum prinsip hidup dalam kalimat singkat, tapi dengan kedalaman yang terasa ketika direnungkan.


9Naval di Era AI dan Proyek-proyek Terbaru

Naval tidak berhenti hanya di AngelList dan kripto. Ia juga aktif terlibat dalam berbagai proyek baru, termasuk di bidang AI. Salah satu inisiatif yang ia dukung adalah Botworks, sebuah layanan pengembangan AI “industrial-grade” yang membantu perusahaan membangun dan memelihara sistem AI secara berkelanjutan.

Secara umum, ia melihat AI dan dunia digital sebagai perpanjangan dari ide leverage teknologi dan software yang memungkinkan satu orang menghasilkan output yang jauh lebih besar daripada era sebelumnya. Karena itu, ia konsisten menyarankan orang-orang untuk:

  • Belajar memanfaatkan teknologi, bukan hanya menjadi pengguna pasif.
  • Membangun aset digital (produk, konten, aplikasi).
  • Memahami bagaimana ekonomi baru ini bekerja.


Pelajaran Praktis dari Naval Ravikant

Berikut beberapa pelajaran praktis dari Naval yang bisa diterapkan siapa pun:

1. Investasi Terbaik adalah Diri Sendiri

Naval berulang kali menekankan bahwa investasi paling penting adalah mengembangkan diri sendiri melalui pengetahuan, karakter, dan kesehatan.

  • Banyak membaca, terutama buku-buku klasik yang timeless.
  • Memperdalam skill yang punya leverage tinggi (misalnya menulis dan teknologi).
  • Menjaga tubuh dan pikiran, karena tanpa energi dan fokus, semua peluang sulit dimanfaatkan.

2. Bangun Aset, Bukan Hanya Karier

Karier penting, tetapi Naval mengajak kita memikirkan, apakah yang kita lakukan hari ini membantu membangun aset jangka panjang Misalnya dengan membangun brand pribadi, produk digital, bisnis kecil, dan jaringan relasi yang kuat.

Apakah kita memiliki aset yang bekerja untuk kita bahkan ketika kita tidak sedang bekerja?

3. Pilih Lingkungan dan Orang yang Tepat

Naval sering mengatakan bahwa kualitas hidup dan karier sangat dipengaruhi oleh dengan siapa kita menghabiskan waktu. Lingkungan yang tepat bisa mempercepat pertumbuhan dan lingkungan yang salah bisa menghabiskan energi.

Dalam konteks ini, ia menyarankan:

  • Berada di sekitar orang-orang yang jujur, kompeten, dan optimis,
  • Menghindari drama, politik kantor, dan lingkungan yang penuh kebohongan.

4. Kebebasan Waktu sebagai Tujuan Utama

Bagi Naval, puncak “kekayaan” bukan sekadar angka di rekening bank, tapi ketika kita:

  • Bebas mengatur waktu sendiri.
  • Tidak dipaksa bekerja di hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan minat kita.
  • Punya cukup ruang untuk berpikir, belajar, dan menciptakan.

Uang hanyalah salah satu alat untuk mencapai titik itu, bukan tujuan akhir.


Naval Ravikant adalah contoh menarik dari generasi baru pemimpin di dunia teknologi, ia bukan hanya pengusaha dan investor yang sukses, tetapi juga pemikir yang membagikan prinsip hidupnya secara terbuka kepada dunia.

Dari masa kecil yang penuh kesulitan sebagai imigran di Queens, ia membangun karier di Silicon Valley, mendirikan Epinions, Venture Hacks, AngelList, dan terjun ke dunia kripto lewat MetaStable Capital. Di sisi lain, ia juga menghasilkan “warisan intelektual” lewat tweet, podcast, dan buku The Almanack of Naval Ravikant yang menjadi rujukan banyak orang yang ingin memahami hubungan antara kekayaan, kebebasan, dan kebahagiaan.

Yang membuat Naval relevan bukan sekadar karena ia kaya atau punya portofolio investasi mengesankan, tetapi karena ia berusaha menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar tentang bagaimana cara hidup yang baik di era digital, ketika peluang dan distraksi sama-sama berlimpah?

Melalui pemikirannya, kita diajak untuk:

  • Membangun specific knowledge yang unik.
  • Memanfaatkan leverage teknologi dan media.
  • Membedakan antara uang dan kekayaan.
  • Belajar menjadikan kebahagiaan sebagai keterampilan yang bisa dilatih.

Dengan kata lain, kisah Naval Ravikant bukan hanya tentang bagaimana menjadi kaya, tetapi bagaimana menjadi merdeka secara finansial, intelektual, dan emosional di dunia yang terus berubah dengan sangat cepat.

Artikel Terbaru

Video Terbaru