Ekonomi | Rabu, 19 November 2025

Mengenal The Fed Sebagai Bank Sentral Paling Berpengaruh di Dunia

10 Min Read 6 Views
thumb

The Fed adalah singkatan dari The Federal Reserve System, bank sentral Amerika Serikat yang sering disebut sebagai “The Fed”. Meskipun hanya satu negara, keputusan The Fed bisa mengguncang pasar keuangan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Untuk memahami kenapa nama ini begitu sering muncul di berita, kita perlu mengenal apa itu The Fed, bagaimana cara kerjanya, dan kenapa kebijakannya sangat berpengaruh.


Apa itu The Fed?

Secara sederhana, The Fed adalah bank sentral Amerika Serikat. Tugas utamanya:

  • Menjaga stabilitas harga (mengendalikan inflasi)
  • Menjaga lapangan kerja setinggi mungkin
  • Menjaga sistem keuangan tetap stabil
  • Mengatur dan mengawasi bank-bank
  • Menyediakan layanan sistem pembayaran (transfer antarbank, distribusi uang, dll.)

Kalau diibaratkan, The Fed adalah “bank-nya bank” dan “penjaga” sistem keuangan Amerika Serikat.



Sejarah The Fed

Sebelum The Fed dibentuk, Amerika sering mengalami krisis perbankan dan kepanikan finansial (bank-run), salah satu yang paling parah terjadi pada tahun 1907. Untuk menghindari kejadian serupa, Kongres AS akhirnya membentuk Federal Reserve System pada tahun 1913 melalui Federal Reserve Act.

Tujuan awalnya:

  • Menyediakan sistem perbankan yang lebih aman dan stabil
  • Menjadi lender of last resort (pemberi pinjaman terakhir) bagi bank yang kekurangan likuiditas
  • Mengelola sistem pembayaran nasional

Seiring waktu, mandat The Fed berkembang, terutama setelah Depresi Besar 1930-an dan berbagai krisis keuangan modern.


Struktur The Fed

The Fed bukan hanya satu institusi tunggal, tetapi sebuah sistem yang terdiri dari beberapa bagian utama:

Board of Governors (Dewan Gubernur)

  • Berkantor di Washington, D.C.
  • Terdiri dari 7 anggota yang diangkat oleh Presiden AS dan disetujui Senat.
  • Masa jabatan panjang (14 tahun) untuk menjaga independensi.
  • Mengatur kebijakan umum, mengawasi 12 bank The Fed regional, dan ikut menentukan kebijakan moneter.

12 Federal Reserve Banks Regional

  • Tersebar di berbagai kota besar di AS (misalnya New York, San Francisco, Chicago, dll.).
  • Melayani wilayah masing-masing (mirip “cabang besar” bank sentral).
  • Menyimpan cadangan bank-bank komersial, memberi pinjaman ke bank, mengedarkan uang kartal, dan membantu pengawasan bank.

FOMC (Federal Open Market Committee)

  • Ini adalah “jantung” kebijakan moneter The Fed.
  • Terdiri dari 12 anggota: 7 dari Board of Governors, Presiden Fed New York, dan 4 presiden bank regional lainnya yang bergilir.
  • FOMC biasanya rapat 8 kali setahun untuk memutuskan suku bunga acuan dan kebijakan moneter lainnya.


Mandat Utama The Fed

The Fed punya apa yang disebut “dual mandate” (dua mandat utama):

Stabilitas harga

  • Menjaga inflasi tetap rendah dan stabil.
  • Target inflasi The Fed biasanya sekitar 2% per tahun.

Lapangan kerja maksimum

  • Membantu agar ekonomi bisa menyediakan sebanyak mungkin lapangan kerja tanpa memicu inflasi yang berlebihan.

Secara praktis, The Fed harus menyeimbangkan:

  • Kalau ekonomi terlalu panas (inflasi tinggi, pengangguran rendah), suku bunga bisa dinaikkan.
  • Kalau ekonomi lesu (pengangguran tinggi, inflasi rendah), suku bunga bisa diturunkan dan likuiditas ditambah.

Di luar itu, The Fed juga punya mandat stabilitas sistem keuangan dan kelancaran sistem pembayaran, misalnya memastikan sistem transfer antarbank tetap aman dan lancar.


Alat Kebijakan Moneter The Fed

Untuk mencapai tujuannya, The Fed menggunakan beberapa “alat”. Yang paling sering dibahas:

Suku Bunga Federal Funds Rate

Ini adalah suku bunga acuan jangka sangat pendek yang dikenakan antar bank untuk pinjaman semalam (overnight).

Ketika The Fed menaikkan target federal funds rate:

  • Pinjaman menjadi lebih mahal
  • Kredit konsumsi (KPR, kartu kredit, cicilan mobil) cenderung ikut naik
  • Investasi dan belanja bisa melambat
  • Inflasi ditekan, tapi risiko perlambatan ekonomi meningkat

Ketika The Fed menurunkan suku bunga:

  • Pinjaman menjadi lebih murah
  • Aktivitas ekonomi terdorong
  • Tapi jika terlalu murah dan terlalu lama, bisa memicu gelembung aset dan inflasi

Sepanjang tahun 2022, FOMC menaikkan suku bunga dari mendekati 0% hingga sekitar 4,25–4,5%, sebagai respons terhadap lonjakan inflasi pasca-pandemi.

Setelah itu, suku bunga sempat berada di kisaran 5,25–5,5%, level tertinggi sejak awal 2000-an, sebelum kemudian mulai diturunkan lagi pada 2025 ke kisaran sekitar 4–4,25%.

Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operations)

Inilah aktivitas The Fed membeli atau menjual surat utang pemerintah AS (U.S. Treasuries) di pasar.

  • Membeli obligasi → menambah uang beredar, menurunkan suku bunga pasar.
  • Menjual obligasi → mengurangi uang beredar, menekan likuiditas, mendorong suku bunga naik.

Kebijakan ini diputuskan dan diarahkan oleh FOMC.

Diskonto (Discount Rate)

Ini adalah suku bunga yang dikenakan The Fed kepada bank ketika bank tersebut meminjam langsung ke The Fed melalui fasilitas yang disebut discount window.

Biasanya, bank lebih suka meminjam ke sesama bank, tetapi ketika pasar sedang tegang, pinjaman dari The Fed menjadi sangat penting sebagai sumber dana darurat.

Persyaratan Cadangan (Reserve Requirements)

Dulu, The Fed mewajibkan bank menyimpan sebagian dana nasabah sebagai cadangan di The Fed. Dengan mengubah persentase cadangan, The Fed bisa mempengaruhi seberapa banyak kredit yang bisa disalurkan bank. Namun, beberapa tahun terakhir aturan cadangan wajib ini banyak dilonggarkan dan bukan lagi alat utama, karena sistem perbankan modern lebih banyak diatur lewat regulasi modal dan likuiditas lainnya.

Quantitative Easing (QE) dan Balance Sheet Policy

Saat krisis besar, sekadar memotong suku bunga kadang tidak cukup, apalagi kalau suku bunga sudah mendekati 0%. Di sinilah muncul kebijakan Quantitative Easing (QE):

  • The Fed membeli aset keuangan dalam skala besar, terutama obligasi pemerintah dan surat berharga berbasis KPR (MBS).
  • Dengan pembelian masif ini, imbal hasil obligasi jangka panjang turun, sehingga mendorong kredit dan investasi.
  • Neraca (balance sheet) The Fed membengkak karena memegang banyak aset keuangan.

QE pertama kali dilakukan besar-besaran setelah krisis keuangan 2008, lalu diulang lagi pada krisis Eropa, dan secara masif saat pandemi Covid-19 tahun 2020.


The Fed sebagai “Bank-nya Bank” dan Pengelola Sistem Pembayaran

Selain soal suku bunga, The Fed juga menjalankan fungsi operasional penting:

  • Menyimpan rekening bagi bank-bank: bank komersial menyimpan cadangannya di The Fed.
  • Menyediakan layanan transfer dana antar bank (misalnya lewat sistem Fedwire).
  • Mendistribusikan uang kartal (dolar kertas dan koin) ke seluruh wilayah.
  • Menjadi fiscal agent pemerintah AS: membantu Departemen Keuangan dalam mengelola kas dan menerbitkan surat utang.

Tanpa infrastruktur ini, transaksi besar antarbank dan antar perusahaan bisa kacau.


Pengawasan dan Stabilitas Sistem Keuangan

The Fed juga bertindak sebagai pengawas (regulator) dan pengendali risiko di sistem keuangan:

  • Mengawasi bank-bank anggota dan holding company perbankan.
  • Melakukan stress test pada bank besar untuk memastikan mereka bisa tahan terhadap guncangan ekonomi.
  • Menetapkan aturan kehati-hatian (prudential regulation), seperti rasio modal dan likuiditas.

Di sisi lain, sebagai lender of last resort, The Fed dapat memberi pinjaman darurat untuk mencegah efek domino ketika suatu bank besar nyaris kolaps dan berpotensi menular ke bank lain.


Peran The Fed dalam Krisis Keuangan

1. Krisis Keuangan 2008 (Subprime Crisis)

Saat krisis 2007–2008, The Fed:

  • Menurunkan suku bunga dari sekitar 5,25% menjadi hampir 0%.
  • Membuka berbagai fasilitas pinjaman khusus agar bank dan lembaga keuangan tetap punya akses likuiditas.
  • Meluncurkan program QE pertama: membeli obligasi pemerintah dan MBS dalam jumlah besar.

Tujuannya: menstabilkan pasar keuangan, mencegah runtuhnya sistem perbankan, dan mendorong pemulihan ekonomi.

2. Krisis Pandemi Covid-19 (2020)

Saat pandemi Covid-19:

  • The Fed menurunkan suku bunga kembali ke dekat 0%.
  • Menjalankan QE dalam skala sangat besar, bahkan lebih besar daripada 2008.
  • Menyediakan berbagai fasilitas dukungan likuiditas, termasuk ke pasar obligasi perusahaan.

Langkah-langkah ini membantu mencegah krisis keuangan yang lebih parah, tetapi di sisi lain turut berkontribusi pada likuiditas yang melimpah dan, kemudian, tekanan inflasi saat ekonomi pulih dan pasokan barang terganggu.


Kebijakan The Fed dan Inflasi Tinggi Pasca-Pandemi

Setelah pandemi mereda, Amerika dan banyak negara lain mengalami inflasi tinggi. Penyebabnya kombinasi:

  • Gangguan rantai pasokan (supply chain)
  • Permintaan yang pulih cepat karena stimulus fiskal dan moneter
  • Kenaikan harga energi dan komoditas

The Fed awalnya menganggap inflasi bersifat sementara, tetapi ketika data menunjukkan inflasi bertahan tinggi, mereka bereaksi agresif:

  • Tahun 2022–2023, FOMC beberapa kali menaikkan suku bunga hingga total kenaikan sangat tajam, dari 0–0,25% menjadi lebih dari 4% hanya dalam setahun.
  • Tujuannya: meredam inflasi dengan memperlambat permintaan dan menahan ekspektasi inflasi.

Hingga 2024–2025, suku bunga tetap pada level yang relatif tinggi secara historis (di kisaran 4%–5% lebih), meskipun inflasi mulai turun dari puncaknya.

Keputusan untuk menurunkan suku bunga pun dilakukan secara bertahap dan hati-hati, karena The Fed khawatir inflasi bisa naik lagi jika pelonggaran terlalu cepat.


Dampak Kebijakan The Fed bagi Ekonomi Amerika

Kebijakan The Fed mempengaruhi hampir semua aspek ekonomi:

Kredit dan konsumsi rumah tangga

  • Suku bunga kredit rumah (KPR), kredit mobil, kartu kredit naik/turun seiring perubahan suku bunga The Fed.
  • Ketika suku bunga tinggi, cicilan naik, konsumsi bisa melambat.

Investasi perusahaan

  • Biaya pinjaman untuk investasi (membangun pabrik, membeli mesin, dll.) tergantung suku bunga.
  • Suku bunga tinggi maka akan perusahaan lebih berhati-hati, proyek yang marginal jadi tidak layak.

Pasar properti

  • KPR mahal bisa menekan permintaan rumah, memperlambat kenaikan harga properti, bahkan memicu koreksi di beberapa wilayah.

Pasar saham

  • Suku bunga rendah biasanya mendukung harga saham karena investor mencari imbal hasil lebih tinggi di aset berisiko.
  • Ketika The Fed agresif menaikkan suku bunga, pasar saham sering bergejolak.

Pasar tenaga kerja

  • Kebijakan yang terlalu ketat terlalu lama bisa membuat perusahaan mengurangi rekrutmen atau bahkan PHK, sehingga pengangguran naik.
  • Di sinilah The Fed harus sangat hati-hati menyeimbangkan inflasi dan lapangan kerja.


Dampak Kebijakan The Fed ke Indonesia dan Dunia

Meskipun The Fed hanya bank sentral AS, keputusan mereka punya efek global karena dolar AS adalah mata uang utama dunia.

Beberapa saluran dampaknya:

Arus modal (capital flows)

  • Ketika suku bunga dolar naik, investasi di aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik.
  • Investor global bisa menarik dananya dari pasar negara berkembang (termasuk Indonesia) untuk kembali ke AS.
  • Akibatnya, nilai tukar rupiah bisa tertekan dan pasar saham obligasi domestik bisa berfluktuasi.

Nilai tukar dan kebijakan Bank Indonesia

  • BI perlu memperhatikan kebijakan The Fed. Jika selisih suku bunga terlalu sempit, tekanan terhadap rupiah bisa meningkat.
  • Kadang BI perlu menyesuaikan suku bunga acuan atau melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas.

Harga komoditas global

  • Suku bunga dan ekspektasi ekonomi AS mempengaruhi harga minyak, logam, dan komoditas lain.
  • Negara pengekspor komoditas akan merasakan efeknya pada penerimaan ekspor.

Sentimen pasar global

  • Pernyataan ketua The Fed sering langsung menggerakkan indeks saham, yield obligasi, dan nilai tukar di seluruh dunia.

Jadi, meski kita tinggal di Indonesia, kebijakan The Fed tetap penting untuk dipantau, terutama bagi pelaku usaha, investor, dan pembuat kebijakan.


Kritik dan Kontroversi seputar The Fed

Sebagai lembaga yang sangat berkuasa, The Fed tentu tidak lepas dari kritik:

Terlalu kuat dan tidak demokratis?

Ada yang berpendapat bahwa sekelompok teknokrat tidak terpilih (bukan hasil pemilu) memegang kekuasaan besar atas ekonomi. Di sisi lain, independensi ini dianggap perlu agar kebijakan tidak mudah dipengaruhi kepentingan politik jangka pendek.

Mendorong ketimpangan?

Kebijakan suku bunga rendah dan QE dianggap mendorong kenaikan harga aset (saham, properti) yang lebih banyak dimiliki orang kaya, sehingga memperlebar kesenjangan.

“Mencetak uang” terlalu banyak?

Saat krisis, QE dan ekspansi neraca The Fed sering dikritik sebagai “money printing” yang berisiko memicu inflasi tinggi di masa depan. Inflasi tinggi pasca-pandemi sebagian oleh sebagian orang dikaitkan dengan kebijakan longgar yang terlalu lama.

Komunikasi dan prediksi yang salah

The Fed pernah dianggap terlambat merespons inflasi, misalnya ketika awalnya menilai inflasi pasca-pandemi sebagai “sementara”.

Meski demikian, banyak ekonom berpendapat bahwa tanpa The Fed yang aktif, krisis seperti 2008 dan 2020 bisa jauh lebih parah.


Bagaimana Cara “Mengikuti” Kebijakan The Fed?

Jika Anda tertarik pada investasi, bisnis, atau ekonomi makro, kebijakan The Fed wajib dipantau. Beberapa cara:

  • Mengikuti rapat FOMC (biasanya 8 kali setahun). Setelah rapat, The Fed mengeluarkan statement dan konferensi pers.
  • Membaca ringkasan proyeksi ekonomi dan dot plot (proyeksi suku bunga ke depan dari tiap anggota FOMC).
  • Mengikuti berita ekonomi yang membahas inflasi AS, data tenaga kerja, dan komentar pejabat The Fed.
  • Mengikuti analisis bank, ekonom, atau media keuangan yang menjelaskan implikasi keputusan The Fed.

Dengan memahami pola pikir The Fed, prioritas antara inflasi dan lapangan kerja, kita bisa lebih siap mengantisipasi arah suku bunga dan dampaknya ke nilai tukar, pasar saham, hingga biaya pinjaman.



The Fed adalah bank sentral Amerika Serikat yang mengatur “harga uang” paling penting di dunia. Melalui suku bunga, operasi pasar terbuka, QE, dan berbagai kebijakan lainnya, The Fed berusaha menjaga inflasi tetap terkendali, lapangan kerja tetap kuat, dan sistem keuangan tetap stabil.

Namun, tugas ini tidak mudah. The Fed selalu berjalan di atas garis tipis antara mengerem dan menggas ekonomi. Terlalu longgar, inflasi bisa melonjak. Terlalu ketat, pengangguran bisa naik. Setiap keputusan membawa konsekuensi besar, bukan hanya untuk warga Amerika, tetapi juga untuk negara lain, termasuk Indonesia.

Memahami cara kerja The Fed membantu kita membaca arah ekonomi global, mengambil keputusan keuangan yang lebih bijak, dan tidak panik setiap kali berita menyebutkan “The Fed menaikkan atau menurunkan suku bunga”.

Artikel Terbaru

Video Terbaru