Buku | Selasa, 25 November 2025

Rahasia Kekayaan Abadi dari The Richest Man in Babylon

11 Min Read 7 Views
thumb

Buku The Richest Man in Babylon adalah salah satu buku klasik tentang keuangan pribadi yang sampai sekarang masih sering direkomendasikan. Padahal buku ini pertama kali terbit hampir 100 tahun yang lalu. Menariknya, isinya tidak berupa rumus keuangan yang rumit, tetapi berupa kisah-kisah sederhana yang berlatar di kota kuno Babilonia. Dari cerita-cerita itulah, kita diajak belajar prinsip mengelola uang dengan cara yang sangat mudah dipahami.

Artikel ini akan membahas isi dan pelajaran penting dari The Richest Man in Babylon dengan bahasa yang santai, jelas, dan mendalam, supaya kamu bisa langsung menghubungkannya dengan kondisi keuanganmu sekarang.


Tentang buku The Richest Man in Babylon

Buku ini ditulis oleh George S. Clason. Alih-alih menulis buku teori finansial yang kaku, ia memilih format cerita pendek (parable) yang berlatar di Babilonia, sebuah kota kaya dalam sejarah kuno yang terkenal sebagai pusat perdagangan dan kekayaan.

Tokoh utamanya bernama Arkad, yang diceritakan sebagai orang terkaya di Babilonia. Orang-orang datang kepadanya untuk bertanya tentang bagaimana cara menjadi kaya? Dari berbagai dialog dan kisah, Arkad membagikan prinsip-prinsip dasar pengelolaan uang berupa cara mendapatkan, menyimpan, dan mengembangkan kekayaan.

Yang membuat buku ini menarik adalah:

  • Bahasanya sederhana, yang membuat inti pesannya dapat sangat mudah untuk dicerna.
  • Bersifat abadi karena prinsipnya tidak terikat zaman. Walau konteksnya unta, koin emas, dan perdagangan, pelajarannya masih relevan untuk gaji bulanan, cicilan, dan investasi masa kini.
  • Fokus pada kebiasaan, bukan trik cepat kaya. Buku ini menekankan disiplin, kebiasaan menabung, dan keputusan keuangan yang bijak.


Latar awal cerita, dimulai dari pertanyaan “kenapa tetap miskin?”

Di awal buku, kita diperkenalkan pada dua sahabat yaitu Bansir (pembuat kereta) dan Kobbi (pemain kecapi). Mereka bekerja keras, punya keahlian, tapi tetap hidup pas-pasan. Mereka merasa lelah karena penghasilan selalu habis sebelum akhir bulan, tidak punya tabungan, dan tidak ada perubahan dalam hidup, meski sudah lama bekerja.

Suatu hari, mereka menyadari bahwa Arkad, teman lama mereka, berhasil menjadi sangat kaya, padahal dulu latar belakangnya biasa saja. Mereka pun memutuskan untuk menemui Arkad dan meminta diajari cara mengelola uang.

Dari sinilah, pelajaran utama buku dimulai.


Arkad dari seorang penulis biasa menjadi orang terkaya di Babilonia

Arkad tidak lahir kaya. Ia memulai kariernya sebagai juru tulis yang dibayar kecil. Hidupnya berubah ketika ia bekerja untuk seorang pria kaya bernama Algamish. Lewat Algamish, Arkad mendapatkan “ilmu tentang emas”, yaitu prinsip-prinsip dasar kekayaan.

Arkad mempraktikkan ilmu berikut ini secara disiplin:

  • Mulai menyisihkan sebagian kecil dari penghasilannya.
  • Belajar bagaimana cara “membuat uang bekerja”.
  • Belajar dari kesalahan investasi.
  • Meningkatkan keterampilan diri sehingga penghasilannya juga bertambah.

Hal yang ditekankan buku ini adalah Arkad tidak tiba-tiba kaya, ia kaya karena kebiasaan keuangan yang benar dan diterapkan terus-menerus dalam jangka panjang.


Tujuh prinsip utama mengelola uang (Seven Cures for a Lean Purse)

Salah satu bagian paling terkenal dari buku ini adalah tujuh “obat” untuk dompet yang selalu kempis. Dalam konteks modern, ini bisa kita anggap sebagai tujuh prinsip dasar keuangan pribadi.

1. Mulailah dengan menyisihkan minimal 10% dari penghasilan

Prinsip pertama, “Bayar diri sendiri terlebih dahulu.” Artinya, setiap kali kamu menerima penghasilan (gaji, fee, komisi, dan lain-lain), langsung sisihkan minimal 10% untuk dirimu sendiri, bukan untuk dibelanjakan. Bukan menabung “kalau ada sisa”, tetapi menyisihkan di awal sebagai prioritas.

Arkad mengatakan bahwa sebelum kamu membayar orang lain (penjual makanan, pemilik kontrakan, cicilan, dan sebagainya), kamu harus membayar dirimu sendiri dulu yaitu uang yang kamu simpan sebagai benih kekayaanmu di masa depan.

Di masa kini, bentuk praktiknya bisa seperti berikut:

  • Auto-debit 10–20% gaji ke rekening tabungan/investasi.
  • Pisahkan rekening untuk kebutuhan harian dengan rekening untuk “masa depan”.
  • Anggap tabungan/investasi bukan uang yang boleh disentuh.

2. Kendalikan pengeluaranmu

Banyak orang merasa “Aku tidak bisa menabung, gajiku pas-pasan.” Tapi buku ini menantang pandangan itu. Arkad mengatakan, keinginan tidak akan pernah habis. Kalau penghasilan naik, biasanya pengeluaran ikut naik.

Di sinilah pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan:

  • Kebutuhan: Hal yang kalau tidak dipenuhi membuat hidupmu terganggu, seperti makanan, tempat tinggal, transportasi untuk bekerja, dan kesehatan.
  • Keinginan: Hal yang menyenangkan, tapi sebenarnya bisa ditunda atau dikurangi, seperti ngopi mahal, gadget baru padahal yang lama masih layak, dan liburan mewah.

Prinsipnya adalah setelah menyisihkan 10% untuk tabungan/investasi, atur sisa 90% agar cukup untuk kebutuhanmu. Artinya, bukan tabungan yang menyesuaikan lifestyle, tapi lifestyle yang harus menyesuaikan tabungan.

Praktiknya di zaman sekarang:

  • Buat catatan pengeluaran sederhana, bisa pakai aplikasi atau spreadsheet.
  • Tandai pengeluaran yang bisa dipangkas.
  • Terapkan batas dengan budget bulanan untuk kategori tertentu, misalnya makan di luar, hiburan, dan lain-lain.

3. Gunakan uangmu untuk menghasilkan uang (investasi dengan bijak)

Menabung saja tidak cukup. Dalam buku, Arkad menyebut bahwa emas (uang) harus “bekerja” untuk pemiliknya. Artinya, uang yang kita miliki perlu diinvestasikan agar bisa berkembang.

Contoh di zaman modern:

  • Menaruh uang di instrumen investasi seperti reksa dana, saham, obligasi, deposito, bisnis, properti dengan menyesuaikan profil risiko masing-masing.
  • Membiarkan bunga berbunga (compound interest) bekerja untukmu.
  • Tidak membiarkan uang menganggur terlalu banyak dalam bentuk cash yang nilainya tergerus inflasi.

Tentu saja, buku ini juga mengingatkan bahwa jangan asal investasi. Kita perlu memahami tempat kamu menaruh uang. Arkad sendiri pernah rugi karena menyerahkan uangnya kepada orang yang tidak ahli di bidang tersebut, hanya karena tergiur janji untung besar.

Prinsip yang bisa dipetik:

  • Investasi-lah di bidang yang kamu pahami, atau bersama orang yang kompeten dan bisa dipercaya.
  • Jangan mudah tergoda “untung besar dalam waktu singkat”.
  • Lebih baik untung kecil tapi konsisten, daripada mengejar sesuatu yang belum kamu pahami.

4. Lindungi kekayaanmu dari kerugian

Buku ini menekankan pentingnya keamanan modal. Arkad mengatakan, orang yang bijak tidak akan menaruh uangnya pada investasi yang terlalu berisiko atau pada janji manis yang terdengar terlalu bagus.

Dalam kondisi sekarang, bentuk perlindungan ini bisa berupa:

  • Tidak ikut skema cepat kaya yang tidak jelas seperti MLM, investasi bodong, robot trading tanpa izin, dan sebagainya.
  • Memahami risiko sebelum menaruh uang di instrumen tertentu.
  • Diversifikasi dengan tidak menaruh semua uang di satu tempat.
  • Menggunakan asuransi untuk melindungi dirimu dari risiko besar tertentu (kesehatan, jiwa, atau aset tertentu yang krusial).

Intinya adalah bukan anti risiko, tapi sadar risiko dan membuat keputusan dengan informasi yang cukup.

5. Miliki rumah sendiri

Dalam buku, Arkad menganjurkan orang untuk memiliki rumah sendiri. Di konteks Babilonia, itu berarti memiliki tanah dan bangunan. Di zaman sekarang, konsep ini perlu dipahami dengan lebih fleksibel. Namun pesan utamanya adalah Pikirkan strategi tempat tinggal jangka panjang yang sehat secara finansial.

Artinya adalah:

  • Kalau menyewa, pastikan biaya sewa tidak menghabiskan terlalu banyak dari penghasilanmu.
  • Kalau membeli rumah, hitung kemampuan finansial dengan realistis, jangan memaksakan cicilan terlalu berat.
  • Pertimbangkan rumah bukan hanya sebagai simbol status, tapi sebagai kebutuhan dan bagian dari rencana keuangan jangka panjang.

Yang penting bukan sekadar “harus punya rumah”, tapi bagaimana meminimalkan beban biaya tempat tinggal agar kamu tetap bisa menabung dan berinvestasi.

6. Rencanakan masa depan dan proteksi pendapatan

Buku ini mengingatkan bahwa suatu hari nanti:

  • Kita akan tua.
  • Kita mungkin tidak bisa bekerja sekeras sekarang.
  • Akan ada keluarga atau orang yang bergantung secara finansial pada kita.

Karena itu, perlu ada perencanaan jangka panjang:

  • Menabung dan berinvestasi untuk masa tua berupa dana pensiun.
  • Memastikan keluarga tidak “jatuh miskin mendadak” jika sesuatu terjadi pada diri kita dengan memiliki proteksi berupa asuransi jiwa bagi pencari nafkah utama.
  • Memikirkan warisan atau aset yang bisa diteruskan kepada generasi berikutnya.

Prinsip ini mengingatkan bahwa mengelola uang bukan hanya soal “bulan ini cukup atau tidak”, tapi juga soal 10–30 tahun ke depan.

7. Tingkatkan kemampuan diri untuk meningkatkan penghasilan

Prinsip terakhir ini sering dilupakan orang yang hanya fokus pada “hemat, hemat, hemat”. Arkad mengingatkan bahwa kita juga perlu meningkatkan kapasitas diri supaya penghasilan bertumbuh, bentuknya bisa dengan,

  • Belajar keterampilan baru yang bernilai di pasar kerja.
  • Mengambil sertifikasi, kursus, atau pendidikan lanjutan.
  • Meningkatkan kualitas kerja sehingga berpeluang naik gaji atau promosi.
  • Membangun usaha sampingan dengan memanfaatkan skill yang dimiliki.

Dengan kata lain tabungan dan investasi itu penting, tapi menaikkan penghasilan juga sama penting. Dua-duanya harus jalan bersamaan.


Lima hukum emas (Five Laws of Gold)

Selain tujuh “obat” tadi, buku ini juga menjelaskan lima hukum emas. Di sini, “emas” adalah simbol dari uang atau kekayaan. Kalau disederhanakan, hukum-hukum ini berbunyi:

  1. Uang datang kepada orang yang menyisihkan setidaknya 10% dari penghasilannya untuk ditabung dan diinvestasikan. Orang yang disiplin menyimpan uang akan punya modal yang bisa berkembang.
  2. Uang bekerja dan berkembang melalui investasi yang bijak. Uang yang diinvestasikan dengan tepat akan menghasilkan “anak-anak uang” (returns).
  3. Uang akan bertahan pada pemilik yang mengelolanya dengan hati-hati. Orang yang hati-hati, tidak ceroboh, dan selalu mengevaluasi risiko akan menjaga kekayaannya.
  4. Uang menjauh dari orang yang berinvestasi di bidang yang tidak ia pahami. Kalau kamu menaruh uang di hal yang tidak kamu mengerti hanya karena ikut-ikutan, besar kemungkinan akan rugi.
  5. Uang lari dari orang yang rakus dan ingin cepat kaya tanpa mau belajar. Sifat serakah, ingin hasil besar dalam waktu sangat cepat tanpa kerja keras, membuat orang mudah terjebak penipuan.

Kelima hukum emas ini bisa dianggap sebagai “aturan main” dasar sebelum kita bicara nama produk finansial. Apa pun instrumennya, mindset ini penting dimiliki.


Relevansi The Richest Man in Babylon di zaman sekarang

Walaupun bercerita tentang Babilonia kuno, isi buku ini sangat relevan dengan kondisi modern:

1. Budaya konsumtif dan FOMO

Di era media sosial, kita mudah tergoda untuk mengikuti gaya hidup orang lain. Prinsip “kendalikan pengeluaran” dan “bedakan kebutuhan–keinginan” jadi sangat penting.

2. Banyaknya tawaran investasi instan

Dari kripto, robot trading, sampai skema bodong, semua mengiming-imingi keuntungan cepat. Lima hukum emas mengingatkan kita untuk mengerti dulu sebelum menaruh uang dan jangan percaya janji yang tidak masuk akal.

3. Tidak diajarkan di sekolah

Banyak dari kita tidak pernah mendapat pendidikan keuangan yang praktis. Buku ini menjadi semacam “kursus singkat” tentang cara dasar mengelola uang yang seharusnya diajarkan sejak muda.

4. Cocok untuk semua tingkat penghasilan

Prinsip mengelola keuangan di buku ini tidak eksklusif bagi orang bergaji besar. Bahkan dengan penghasilan kecil, kebiasaan menyisihkan 10% dan mengatur pengeluaran tetap bisa dilakukan, walau pelaksanaannya butuh perjuangan ekstra.


Cara mempraktikkan pelajaran dari buku ini dalam kehidupan sehari-hari

Berikut langkah-langkah praktis yang bisa kamu lakukan berdasarkan prinsip The Richest Man in Babylon:

1. Hitung penghasilan bulananmu dengan jujur

Catat semua sumber pemasukan dari gaji, bonus, freelance, dan lain-lain.

2. Tetapkan “pajak untuk dirimu sendiri” minimal 10%

Anggap ini wajib, seperti pajak. Bedanya, pajak ini untuk masa depanmu sendiri. Kalau masih berat, mulai dari 5%, lalu naikkan bertahap. Bisa juga pakai auto-debit agar tidak “terlanjur dipakai”.

3. Catat pengeluaran selama 1–2 bulan

Tujuannya bukan bikin hidup kaku, tapi supaya kamu punya gambaran uangmu paling banyak habis di mana dan apa saja yang bisa dikurangi tanpa mengganggu hidup.

4. Potong pengeluaran yang tidak penting

Misalnya ubah kebiasaan ngopi mahal setiap hari jadi 1–2 kali seminggu, stop atau downgrade langganan yang jarang dipakai, dan hindari impulse buying online dengan pakai aturan “tunda 24 jam” sebelum checkout, pastikan benar benar butuh bukan hanya keinginan impulsif.

5. Mulai belajar instrumen investasi dasar

Jangan langsung yang rumit. Bisa mulai dari reksa dana pasar uang/pendapatan tetap, tabungan berjangka atau deposito. Kemudian kalau sudah siap dan paham, baru masuk ke saham, obligasi, dan lain-lain. Intinya adalah belajar dulu, baru masuk.

6. Tingkatkan kemampuan diri

Pilih satu skill yang bisa menambah value-mu di pekerjaan sekarang, atau bisa dijadikan sumber income tambahan. Investasi di skill sering kali memberikan “return” yang jauh lebih besar daripada sekadar menaruh uang di instrumen tertentu.

7. Pikirkan rencana jangka panjang

Misalnya adah dana darurat (3 - 6 bulan pengeluaran), dana pensiun, serta perlindungan dasar seperti asuransi kesehatan, dan bila perlu asuransi jiwa.

Dengan langkah-langkah ini, kamu sebenarnya sedang menerapkan isi buku The Richest Man in Babylon dalam konteks dunia modern.


Kesimpulannya kekayaan adalah hasil kebiasaan bukan kebetulan

The Richest Man in Babylon mungkin terlihat seperti buku cerita kuno, tapi pesan utamanya sangat tajam:

  • Kaya bukan berarti harus lahir dari keluarga kaya.
  • Kaya bukan berarti harus punya penghasilan raksasa.
  • Kaya adalah hasil dari kebiasaan keuangan yang benar dan dilakukan terus-menerus.

Berikut beberapa pesan utama yang bisa dirangkum dari buku tersebut:

  • Sisihkan minimal 10% penghasilan untuk dirimu sendiri.
  • Kendalikan pengeluaran, jangan biarkan lifestyle mengalahkan tabungan.
  • Buat uang bekerja untukmu melalui investasi yang bijak.
  • Lindungi uangmu dari risiko yang tidak perlu dan janji manis yang tidak realistis.
  • Rencanakan masa depan, bukan hanya hidup untuk hari ini.
  • Tingkatkan kemampuan diri, karena penghasilan yang besar juga penting.

Buku ini bukan memberikan “jalan pintas”, tetapi memberikan jalan yang realistis dan bisa dikerjakan oleh siapa saja. Kalau kamu sedang mulai serius memperbaiki kondisi keuangan, The Richest Man in Babylon bisa menjadi salah satu buku yang sangat layak dibaca, lalu dipraktikkan pelan-pelan dalam keseharianmu.

Artikel Terbaru

Video Terbaru